Home Cerita Hantu Keluarga Tak Kasat Mata Part 11

Keluarga Tak Kasat Mata Part 11

Keluarga Tak Kasat Mata Part 11 − Banyak kejadian yang sudah ane alamin selama menulis cerita ini, dan memang kebanyakan dari pengalaman yang sudah terjadi semuanya ada diluar logika nalar manusia biasa. Entah ini hanya kebetulan atau memang sudah disengaja, bagi ane pribadi.. sekali lagi semua ini terasa ajaib diantara percaya & ga percaya (bukan karena nyaman ya.. jujur kalo ane bisa berhenti, ane pengen banget berhenti sekarang juga).

Kedepannya ane ga bakalan memaksa pembaca untuk mempercayai sepenuhnya tentang apa yang bakal ane coba sampaikan, karena sekali lagi hal-hal yang sudah berbau metafisika (gaib) memang sangat sulit untuk dijelaskan. Ambil pelajarannya saja & jangan terlalu terbawa arus untuk “masuk lebih dalam”, melebihi apa yang akan ane sampaikan di sisa cerita ini.Jujur aja selama ane bekerja di mantan perusahaan ane dulu, tidak sedikitpun ane atau temen-temen mencoba untuk mencari tahu tentang asal-usul bangunan tersebut. Bukan karena menutup mata & telinga, tapi semua kenyataan disana mungkin terlalu kelam bagi kami manusia biasa yang hanya bisa menebak tanpa sebuah titik pasti. Begitu juga awal ane nulis cerita ini, sedikitpun ane masih gatau banyak tentang sejarah bangunan itu.

Lebih baik untuk tidak tahu sama sekali, daripada menyalahi kodrat yang melebihi batasan. Bukankah begitu?

Perkenalkan, nama saya Langgeng. Kalian boleh mengenal saya dalam cerita ini, tetapi jangan pernah sekalipun kalian mencoba menyebut nama saya atau menebak persepsi tentang saya di kehidupan nyata. Karena sudah digariskan dalam persetujuan antara saya dan Ibu Suminah, beberapa manusia sudah dipilih untuk menceritakan kisah ini. Sebuah kisah yang sudah terkubur lama oleh waktu & mungkin sudah saatnya kebenaran harus diungkapkan.

play dulu deh 1 set playlist biar petualangan kita seru

Sekali lagi melalui sebuah keajaiban, ane diperbolehkan kembali melintasi ruang & waktu. Menuju ke banyak experience metafisika yang kemudian membukakan mata ane akan sisa cerita – Ya.. Entah bagaimana semua ini bisa terjadi, waktu itu ane bisa bertemu dengan seseorang pria berbadan tinggi, besar, dan tegap. Dengan rambut panjang hampir sepinggang. Satu sosok yang bisa ane bilang sangar, sesangar-sangarnya manusia deh pokoknya.

Dari kejauhan raut mukanya terlihat bahwa pria ini adalah orang yang ramah. Tetapi terkadang dia memberikan pandangan mata tajam ke ane waktu ane diem-diem perhatiin dia, (mungkin karena baru pertama kali ketemu ya) yang akan membuat ciut nyali seseorang seketika. Tambahan.. dibawah mata pria ini ada semacam codet hitam ala tentara gitu, jadi agak merinding disco juga waktu itu. Satu hal yang menurut ane agak janggal, karena di pertemuan ini ane bertemu dengan orang yang berpakaian adat seperti salah satu suku di Kalimantan. Sedangkan ane berpakaian normal apa adanya seperti orang jaman sekarang.

Clingak-clinguk ane bingung mau ngapain, ga mungkin juga ane yang salah kostum. Akhirnya ane beraniin diri buat datengin pria tadi sekedar buat tanya-tanya atau nyapa aja. Dan untungnya waktu itu bukan cuma ane aja manusia yang bisa dianggap “normal” di tempat itu. Dari arah lain, ane lihat ada dua orang manusia.. yang berpakaian normal tentunya.. datang menghampiri sosok pria tadi berbarengan dengan saya. Dan ya.. hari itu adalah hari pertama saya bertemu dengan satu sosok yang kemudian kita kenal baik beliau dengan nama Langgeng. Disamping itu, ada juga Om Hao & Mbah KJ (2 orang tadi) yang juga mendapati kesempatan untuk bertemu langsung dengan Langgeng.

Empat pria dengan latar belakang yang tidak pernah diketahui satu sama lain seperti sudah ditakdirkan untuk berkumpul menjadi satu. Intinya kami cuma sekedar ngobrol aja disitu. Dan setelah obrolan yang bisa dibilang sangat panjang untuk mengenal satu sama lain, kami semua menemukan satu kesamaan yang menurut ane sendiri super ajaib – kami semua lahir di tanggal yang sama, tanggal 13 hanya saja terpaut di tahun yang berbeda.

Entah ada apa dengan semua ini, tapi sekilas Langgeng berkata kepada kami semua, “Kalian ada disini, karena kalian adalah 13-13-13 sudah digariskan seperti ini. Dan saya akan membimbing kalian semua dalam perjalanan menyelesaikan cerita ini”

Tidak banyak percakapan yang sulit untuk kami artikan saat itu. Apa maksud & tujuan dari perkataan Langgeng, langsung dapat kami artikan secara cepat.

Lalu siapa sebenarnya Langgeng ini? Barusan ketemu sudah main menentukan saja..

Sepertinya pemikiran diatas sanggup beliau baca dengan cepat, beliau bercerita singkat kepada kami. Dengan penampilan yang berbeda sekarang, diapun juga manusia biasa seperti halnya kami bertiga yang mempunyai sisi baik dan buruk. Hanya saja beliau datang ribuan tahun lebih lama dari kita *WHAAATT*

Seketika itu ane sedikit berpersepsi kalo beliau memang bukanlah manusia biasa mungkin, malah sekilas lebih mirip seperti pertapa yang sangat bijak.. terlihat dari gaya penyampaian beliau. Beliau juga bercerita lagi bahwa dulunya beliau mengaku memilih jalan untuk mokhsa selama kehidupannya (semacam bertapa untuk sebuah keabadian kalo ga salah) untuk dapat bersinergi dengan alam. Dan banyak hal lain-lainnya yang kemudian membukakan pandangan kami tentang apa yang pernah terjadi di jaman dahulu di bangunan itu. Karena kebetulan Langgeng pun juga tinggal di bangunan itu sampai sekarang. Langgeng menunjuk kami bertiga untuk mengeksekusi apa yang beliau & satu sosok bernama Ibu Suminah coba sampaikan.

Ditunjuk jarinya ke arah ane oleh beliau, “Kamu sudah terpilih sebagai eksekutor utama dalam semua perjalanan ini” jujur waktu itu ane ngerasa takut banget! (sampai sekarang). Ampun eksekutor apalagi.. dari awal ane udah coba buat ga nerusin lagi ini cerita kalo udah masuk ke hal-hal yang nyatanya lebih jauh lagi dari batasan ane sebagai manusia normal. Padahal di dalam lubuk hati yang paling dalam, ane juga ada lah rasa penasaran akan sejarah bangunan yang ane sendiri tidak pernah tau asal-usulnya.

Ketakutan adalah jelas sebuah kekacauan yang berkecamuk di dalam diri ane. Gimana kalo blablabla.. Gimana kalo blablabla.. banyak sekali kegundahan yang pengen ane sampaikan waktu itu. Tapi sekali lagi.. Baik Langgeng, Om Hao, dan Mbah KJ meyakinkan saya untuk mengambil amanah ini & Insyaallah semuanya akan baik-baik saja selama 13-13-13 mengikuti alurnya. Begitupula dengan Om Hao & Mbah KJ, merekapun juga ditunjuk oleh Langgeng untuk sebuah misi yang sama dengan tugas berbeda yang sama beratnya. Om Hao sebagai perantara / juru bicara antara manusia dengan penunggu astral di kantor lama ane (sehingga kedua belah pihak bisa saling mengerti), dan Mbah KJ sebagai sosok yang menengahi serta mengontrol kondisi publik (antara manusia dengan manusia). Sementara ane sendiri hanyalah butiran debu yang ga ngerti apa-apa & harus menyinergikan semuanya kedalam pesan tulisan. Dalam perjalanannya pun kita tidak akan pernah bisa bertemu langsung lagi hingga part 13 ditulis, dan tidak banyak obrolan diantara kami.. seperti semuanya sudah terhubung secara batin akan tugas ini. Mungkin saja penolakan adalah sebuah penghinaan untuk sebuah amanah kisah yang mungkin akan terdapat pesan moral di dalamnya, dan sekali lagi … menjadi yang terpilih adalah sebuah tanggung jawab besar.

Di hari itu, bahkan jauh sebelum itu.. 13-13-13 semuanya sudah digariskan tanpa adanya kesengajaan – Sang Pembawa Pesan, untuk menyampaikan sebuah pesan & kisah yang nyata dari jauhnya batasan memori ruang dan waktu.

Dengan bantuan Om Hao & tentunya rasa penasaran ane yang tak terbendung, ane dibuang begitu saja ke dimensi lain, entah nantinya ane bisa kembali lagi atau enggak ane sudah ga peduliin lagi – semua pesan yang ane terima, ane coba buat visualisasikan dengan bahasa ane sendiri.

Yang ane inget jelas waktu itu, ane lagi tidur sandaran aja tuh di bawah pohon besar. Lengkap dengan suara hembusan angin & bisikan natural alam yang bisa ane denger samar-samar dari tidur ane. Tapi suara alam sepertinya masih kalah bising dengan suara lain disekitar yang membangunkan tidur nyenyak ane. Sial.. gatau orang lagi tidur apa ya main ganggu aja! Samar-samar ketika ane membuka mata yang masih setengah sadar ini, tebasan kapak & golok meluncur tepat di hadapan ane. Belum sempat menghindar karena kondisi yang masih setengah sadar, tebasan tadi seolah menembus kepala ane gitu aja. Herannya kok ane ga ngerasain sakit sama sekali, darah pun juga gada. Bahkan ane ngerasa orang-orang disitu malah sama sekali ga liat ane. Apakah ane waktu itu sudah menjadi bagian dari yang “tak kasat mata” juga? *gilaaa.. ane bisa gila lama-lama!* Ane celingukan sambil cek keadaan sekitar dan hampir sekeliling ane hanyalah sebuah tanah lapang dengan semak belukar & rawa di sekitar ane. Orang-orang di sekitar situpun juga berpakain aneh-aneh, apa ini lagi ngetrendnya ootd versi culture ya? (mengingat perjumpaan dengan Langgeng tempo hari). Seperti halnya manusia normal & sekedar memastikan keadaan, ane cek hape di kantong dan jelas tertulis di layar tanggal yang tertera adalah sekian – sekian – tahun 1950.

Seketika ane teringat dengan pembicaraan 13-13-13 tempo hari, apakah ini maksud dari semua pertemuan itu? Apakah ini peran ane sebagai eksekutor yang dilempar kesana-kemari demi sebuah catatan sejarah yang belum terungkap sampai saat ini?

Ya inilah daerah tempat bangunan yang ada di cerita yang ane tulis pada sekitaran tahun 1950 an. Tidak seperti sekarang ini, daerah ini waktu itu hanyalah daerah terlantar yang belum berpenghuni. Sekelompok orang terlihat sedang membersihkan area itu, sepertinya akan mulai dibangun peradaban di daerah ini. Sebuah pohon besar berdiri di tengah semak belukar dan rawa-rawa. Tebasan demi tebasan dilayangkan warga guna merobohkan pohon besar itu berada. Ane masih terduduk diam sambil memandang ke sekitar, benar-benar pohon yang ane pake buat bersandar ini sangatlah besar & kesannya super angker.

Toh ane juga serasa yakin ga bakalan bisa dilihat oleh mereka semua (beneran rasanya jadi yang tak kasat mata itu sepi banget), ane beranjak dari tempat tadi dan memandang sekitar. Sampai tatapan mata ane tertuju pada seseorang kakek tua yang sedang menggerutu sendiri di dekat rawa. Penampilannya sekilas hampir mirip seperti Langgeng. Ane samperin aja tuh kakek, siapa tau aja kan ane mudeng sama omongannya. Dan anepun duduk disamping kakek tadi, buat mastiin doi bisa ngeliat ane atau enggak, ane tepukin tangan ane di depan mukanya & ga ada respon menandakan doi tau ga ada ane dideketnya.

“Panggonan ireng dirusak ora kula nuwun” (tempat hitam / angker dirusak tanpa permisi) tutur si kakek tadi tiba-tiba. Memang sekilas pohon yang ada di depan ane ini kayanya emang bukan sembarang pohon, kalo ada yang tau pohon gede di sekitaran kampus UGM yang konon udah jadi urban legend disana, kira-kira seperti itulah bentuknya. Terkesan sangat angker dan dari setiap batangnya seperti ada sesuatu dengan energi besar yang ga bisa ane lihat disitu.

“Kene le tak kandani” (sini nak, saya beritahu) si kakek menoleh ke ane & seketika ane kaget. Kalo kakek tadi bisa liat ane, berarti kakek itu sepertinya juga bukan … !!! Tapi ya sudahlah, seenggaknya bukan ane sendirian aja yang tak kasat mata disini.

“Nggih mbah, wonten nopo nggih?” (iya mbah, ada apa ya?) jawab ane dengan nada agak terbata-bata.

“Kui uwong-uwong lagi dideloki karo atusan munyuk ning uwit kui, opo koe weruh le?” (Itu orang-orang disana lagi diliatin sama ratusan monyet di pohon itu, apa kamu lihat nak?)

“Munyuk nopo nggih mbah? Kok kulo mboten mirsani” (Monyet apa ya mbah? Kok saya tidak melihat apa-apa disana)

“Waduh, kurang ngelmu koe le.. padahal kui rojone pasukan munyuk mau ono ning sebelahmu.Ora usah didelok timbang koe semaput. Awak e koyo buto gede ireng, motone abang, lagi nesu karo uwong-uwong kui sing ngusir omah e” (Aduh, kamu kurang berilmu.. padahal itu raja dari pasukan monyet tadi lagi ada di sebelahmu. Ga perlu kamu lihat ke samping daripada kamu pingsan. Badannya besar seperti raksasa hitam, bermata merah, lagi marah sama orang-orang tadi yang ngusir rumahnya)

Ane masih mencerna deskripsi si kakek tentang sosok yang ada di sebelah ane tadi. Apakah ini si Raja yang ada di bangunan tempat ane ceritain? Gumam ane dalam hati.

“KOE WES NGGUSAH AKU! ORA PERLU NGENTENI TEKAN KAPAN, AKU SAK KANCA-KANCAKU ORA BAKAL LUNGO SEKO KENE!” (Kalian sudah mengusir saya! Jangan pernah berharap sampai kapanpun, saya dan teman-teman saya tidak akan pergi dari sini!)

Satu teriakan keras terdengar dari sebelah ane terdengar dari sang “raja” yang membangkitkan refleks ane untuk langsung menoleh ke samping. Benar adanya, sosok yang sangat tinggi besar, berbulu lebat dengan mata merah, menatap ane dengan penuh amarah. Wajah yang sangat sulit untuk ane deskripsikan membuat ane pingsan seketika itu juga.

Seketika alam bawah sadar ane bereaksi dengan sangat cepat waktu ane ga sadarkan diri. Banyak sekali suara-suara yang mencoba masuk ke pikiran ane. Satu suara seperti memimpin suara dari jeritan-jeritan yang terdengar tadi.

“Dadio aku le, koe bakal ngerti sak kabehane” (Jadilah aku nak, dan kamu bakalan tau semuanya) bisik suara tadi sambil menangis

Dan untuk semuanya, mohon jangan terlalu jauh masuk ke dalam pesan / ilustrasi yang coba disampaikan sosok ini. Tidak perlu gempar dibicarakan, cukup dimengerti dalam hati saja. Mulai saat ini sampai part terakhir nanti, ane selaku TS tidak bisa menjamin apapun bagi pembaca yang kepo akut baik dari segi bangunan / sosok-sosok sensitif didalamnya. Karena pesan ini sudah digariskan untuk disampaikan dengan alur 13-13-13 sesuai amanah beliau

Perkenalkan nama saya Ibu Suminah, waktu membaca pesan ini saya yakin akan banyak sosok-sosok yang muncul dari sana di sekitar kalian semua. Tapi saya akan selalu ada disamping kalian semua, abaikan jika ada gangguan karena itu sudah pasti saya mencoba melindungi kalian dari yang jahat. Atas persetujuan Langgeng, perkuatlah iman kalian & akan saya ajak kalian semua melintasi ruang & waktu untuk melihat apa yang pernah terjadi dengan diri saya, salah satu anggota Keluarga Tak Kasat Mata.

Sesosok wanita membangunkan ane dari ketidaksadaran ane setelah teriakan kencang si raja pohon besar tadi. Dan sekali lagi ane bingung, hampir di tempat yang sama.. hanya berbeda situasi kali ini, tempat yang tadinya sepi perlahan sudah ditumbuhi peradaban manusia. Saking bingungnya ane sampai ga terlalu merhatiin siapa yang bangunin ane tadi. Sesosok wanita dengan aksen jawa kental memberikan senyum kecil dan menolong ane untuk bangun dari posisi ane sekarang. (Mohon maaf kalo bahasa krama Jawa ane agak kacau)

“Kula Suminah, monggo nderek kula dik.. kula ajak mlebet ndalem kula rumiyin. Kula kaliyan lare-lare saged mirsani panjenengan. Bapak mboten saged” (Saya Suminah, ayo ikut saya dik.. saya ajak masuk ke rumah saya dulu. Saya dan anak-anak saya bisa lihat kamu, Cuma bapak yang ga bisa) tutur Ibu Suminah ramah – dan sekali lagi ane sadar masih menjadi “tak kasat mata” di kehidupan ini.

Karena bahasa jawa krama alus ane ga bagus, ane jawab ke Ibu Suminah dengan bahasa campuran sekenanya, “Nggih bu.. menawi mboten merepotkan” (Baik bu.. kalo tidak merepotkan).

Diajaknya ane ke rumah ibu Suminah, sekilas tidak terlalu besar memang.. bahkan bisa dibilang tidak layak huni. Tapi di halaman depannya ane bisa liat 4 anak kecil lagi main bareng mainan tradisional jawa disana. Sekali ane melintasi mereka, mereka tersenyum.. bersorak.. dan kemudian melanjutkan permainannya lagi

“Niku lare-lare kula dik, menawi mboten sayah njenengan saged dolanan bareng hehe” (Itu anak-anak saya dik, semisal kamu ga capek kamu bisa main bareng mereka hehe).

“Mboten sah bu, kula kaliyan Bu Suminah mawon.. mangkih kula kesasar malah repot” (Tidak usah bu, saya sama Bu Suminah saja.. daripada saya kesasar nanti malah repot). Tau kan maksud “kesasar” disini?

Ane dipersilahkan duduk oleh Bu Suminah di ruangan tengah. Ane pandang sekelilingnya, untuk keluarga dengan jumlah 6 orang memang sepertinya tempat ini ga begitu memadai, jauh dari tempat saya tinggal sekarang. Ga bisa ane jelasin terlalu detail, intinya baik kondisi rumah atau interiornya bisa dibilang memprihatinkan. Dari kejauhan ane liat sosok Bapak sedang merenung meratapi nasib dengan pandangan kosongnya. Biarpun Bu Suminah sudah bilang kalo Bapak tidak bisa melihat ane, ane tetep gamau kepo dan jaga pandangan ane dari beliau.

“Panjenengan ting mriki rumiyin nggih dik, kula ajeng tindak rumiyin. Ditenggo mawon mboten sue” (Kamu disini sebentar ya dik, saya mau pergi sebentar. Ditunggu saja, ga bakalan lama).

Duh.. yang bener aja bu. Sungguh teganya dirimu meninggalkan diriku disini sendiri. Sebenernya sih ane gapapa, Cuma terkadang takut aja berhubung kondisi ane yang lagi trans dimensi ini misal ada apa-apa yang bisa bantu kan Cuma Bu Suminah. Dan dengan sangat terpaksa ane ngejawab, “Nggih bu..”

Bu Suminah kemudian pergi keluar rumah mengajak serta merta anaknya. Bukannya ga mau nurutin request Bu Suminah tadi, pikiran ane udah buruan parno duluan.. bakalan mantep nih kalo ditinggal sendirian disini. Kemudian dengan sedikit curian langkah kaki, ane ikutan ngeloyor dari rumah Bu Suminah – semacam Sweeper yang lagi ngikutin Dora sembunyi-sembunyi. Karena ane sendiri juga penasaran sebenernya dengan daerah sekeliling sini, secara udah trans dimensi masa ga jalan-jalan kan?

Tapi entah kenapa setiap kali ane melangkah, hati nurani ane selalu bilang kalo ini semua salah. Dari kejauhan ane lihat Bu Suminah dengan anak-anaknya datang dari satu rumah ke rumah yang lain. Dan selalu setiap rumah yang membuka selalu melontarkan makian kepada Bu Suminah dan anak-anaknya. Ada apa sebenarnya? Ane deketin lagi biar ane bisa nangkep semua inti dari kejadian itu. Dan yang ane denger waktu itu, rata-rata seperti Bu Suminah dan keluarga datang dari rumah ke rumah untuk meminjam uang demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka sementara waktu. Tapi tidak ada satupun tetangga yang berbaik hati untuk meminjamkannya. Jujur ane ga tega ngeliatnya, benar-benar salah keputusan ane untuk ngikutin Bu Suminah dan ane memutuskan untuk lari balik ke rumah Bu Suminah sambil menunggu mereka semuanya pulang.

Sesampainya di rumah Bu Suminah, ane Cuma duduk terdiam. Sekilas sambil ngeliat si Bapak yang daritadi Cuma memberikan pandangan kosong, ane sudah bisa nebak apa yang jadi beban pikiran Bapak waktu itu. Pengen rasanya untuk sekedar menyapa Bapak & membantu, tapi apadaya? Ane bukanlah makhluk yang nyata waktu itu.

“Dingapunten nggih dik, kula tindakipun dados sui. Monggo dik, niki wonten unjukan kangge adik” (Maaf ya dik, saya peginya jadi lama. Silahkan dik, ini ada sedikit makanan buat adik) ujar Bu Suminah sambil menyodorkan makanan kecil ke ane.

“Mboten sah Bu.. Kangge lare-lare mawon mboten nopo-nopo” (Tidak usah Bu.. Buat anak-anak ibu saja tidak apa-apa) saut ane meyakinkan. Dan seketika tampang lesu dari anak-anak berubah sumringah sambil berebut dan berbagi makanan tadi. Pemandangan yang benar-benar mengharukan di depan mata ane saat ini.

‘Mboten sah nangis dik.. nggih ngenten niki keadaanipun, adik pinarak mawon ting griya kula sakderengipun kondur. Mangkih adik bakal ketemu kaliyan Langgeng & tiyang-tiyang anyar ting mriki. Menawi diijinkan, Bapak mangkih bakal pirsani njenengan” (Tidak usah menangis dik.. ya seperti ini keadaannya, adik tinggal saja di rumah saya sebelum pulang. Nanti adik bakal ketemu sama Langgeng & orang-orang baru disini. Semisal diijinkan, nanti Bapak bakal bisa melihat kamu juga” seketika ane usap mata ane, dan berpikir dalam hati …

Sekali lagi ane harus terjebak di dalam memori masa lalu, akankah berakhir kelam atau menyenangkan bagi ane nantinya nanti. Sejuta penasaran akan siapa orang-orang baru yang bakal bertemu dan berinteraksi langsung dengan ane, akankah mereka semua membantu dalam penyingkapan tabir ini? Doakan saja ane selalu sehat selama menerima pesan kisah dari masa lalu ini.

BERSAMBUNG KE CERITA SELANJUTNYA