Home Cerita Hantu Keluarga Tak Kasat Mata Part 13

Keluarga Tak Kasat Mata Part 13

Keluarga Tak Kasat Mata Part 13 − Entah perjanjian apa yang dibuat antara Langgeng dengan Bapak sehingga Ibu Suminah merasa sangat tertekan dengan segala kekayaan yang ia terima sekarang. Mungkin karena gelap mata atau semacamnya membuat Bapak lupa akan perjanjian yang sudah disepakati antara beliau dengan Langgeng (tentang detailnya ane kurang tau karena yang bersangkutan tidak mau diungkap terlalu banyak masalah ini). Dan dari sinilah efek dari kekayaan instan terjadi.

Alkisah Kemudian Hari

Seperti merasa dikhianati perjanjiannya, sosok Langgeng yang sempat ane kira baik itu murka menjadi-jadi. Beliau seperti menuntut apa yang sudah dijanjikan Bapak waktu membuat perjanjian dengan dia. Ane gabisa jelasin panjang lebar disini … yang jelas waktu Bapak mulai mengabaikan perjanjian dengan Langgeng, satu persatu anggota keluarganya meninggal satu persatu (dari anak-anaknya terlebih dahulu). Ane pribadi juga melihat sendiri bagaimana mereka meninggal saat itu, tapi untuk menghormati mereka ane akan tutup mulut soal kasus tersebut.

Yang jelas mereka adalah korban Langgeng atas perjanjian yang sudah dibuat. Menurut penuturan dari Om Hao selaku orang yang bisa melihat melalui mata batin, semua korban Langgeng dimakan sukmanya. Sehingga jasad yang ditinggalkan di dunia nyata ini tidak sepenuhnya jazad nyata, dalam konteks ini digambarkan sebagai pelepah pisang. Pernah suatu waktu satu anggota keluarga mencoba membuktikan kebenarannya saat sedang memandikan jenazah. Konon jika memang korban pesugihan, kala dipotong salah satu anggota tubuhnya jasad tersebut akan berubah menjadi pelepah pisang dan memang benar adanya. Tapi untuk menghargai para pelayat waktu itu, jenazah tersebut tetap dibungkus kain kafan selayaknya manusia untuk menyimpan curiga.

Dalam segala konsekuensi & kenyataan yang sudah terjadi, tangisan Ibu Suminah semakin menjadi-jadi. Waktu itu tinggal bersisa satu anak Ibu Suminah, beliau, dengan Bapak. Bapak sendiri sekarang kembali berubah menjadi Bapak yang pendiam dan hobi merenung. Mungkin dia sudah terpikirkan akan ajal yang menjemputnya setelah ini. Dan tentunya selama kejadian ini berlangsung sosok Mbok Rah selalu ada bersama keluarga tersebut karena beliau adalah orang kepercayaan & secara tidak langsung beliau juga mengetahui apa yang terjadi dengan keluarga ini.

Mungkin saking paniknya waktu itu, sosok ane yang juga ikut melihat disana sudah terabaikan oleh mereka. Memang sesekali Ibu Suminah & Mbok Rah sering melihat ke ane tanpa ada banyak perkataan. Mungkin mereka sudah mempersilahkan ane untuk melihat sepenuhnya apa yang pernah terjadi dengan mereka. Sebagai seorang Ibu tentunya beliau ingin agar anak mereka satu-satunya tidak serta merta menjadi korban selanjutnya atas kekhilafan yang dilakukan oleh ayah mereka sendiri. Dengan inisiatif sendiri & bantuan Mbok Rah, Ibu Suminah pergi ke ruangan cermin tadi dan memecah cermin itu sehingga menjadi pecahan berkeping-keping. Ibu Suminah tahu bahwa Langgeng bisa muncul ke dunia manusia melalui objek yang bisa memantulkan bayangan, sehingga ia mengambil inisiatif untuk memecah kaca tersebut agar Langgeng tidak muncul kembali di kehidupan mereka.

Tapi keputusan yang diambil Ibu Suminah tempo hari sepertinya tidak bertahan lama. Mungkin karena sudah merasa lega dengan cermin yang sudah dihancurkan, membuat mawas diri mereka berkurang. Mereka kembali mendapati Langgeng muncul ke sekitar mereka melalui kolam yang ada di dalam rumah mereka (kolam bersifat memantulkan bayangan seperti bercermin). Waktu itu wujud Langgeng sudah mirip dengan yang ane deskripsikan sebagai si Bos. Ia kembali masuk ke ruangan cermin tadi dengan tatapan penuh dendam kepada keluarga Ibu Suminah. Dalam posisi ini Langgeng sudah kalang kabut, dari sosok yang sederhana dan berubah menjadi sangat kuat dan disegani oleh astral-astral lainnya (penghuni pohon gayam) sehingga ia diposisikan sebagai yang teratas di tempat ini.

Seluruh keluarga seperti kembali ke terror yang akan menuntun mereka ke ajal yang paling dekat. Mbok Rah yang juga selalu ada disamping keluarga itu juga sudah seperti tidak bisa banyak membantu. Beliau memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya (berhenti bekerja). Bapak sudah seperti orang pasrah karena beliau sudah tahu apapun yang akan dilakukannya akan berakhir kepada Langgeng. Tapi tidak dengan Ibu Suminah, beliau tetap dengan kekeuh mencoba menyelamatkan anak semata wayangnya. Konsekuensi adalah harga mati yang harus dibayar mahal. Ibarat kata yang tidak berdosa ikut menanggung beban dari perjanjian ini, Ibu Suminah dan anak terakhirnya mencoba melarikan diri tapi naas bagi mereka semua. Ibunda dan buah hati yang saling menjaga ini terjatuh di kolam tempat Langgeng muncul & tewas dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Dan ya tanpa menampakkan diripun Langgeng bisa menagih janjinya yang telah sekian lama tertunda akibat lalu lintas masuk dia dihalangi (kaca cermin) dan mencabut sosok yang selalu melindungi ane di memori ini, Ibu Suminah. Benar-benar tidak tega dengan pemandangan tersebut, ane samperin Bapak dengan maksud memaki karena semua ini terjadi karena ulah dia! Dan di dalam ruangan Bapak mengintip keluar jendela melihat semua sanak familinya telah meninggalkan dia hanya karena gelimangan harta sementara yang membutakan akal sehatnya. Penyesalan apapun tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, tinggal tersisa ane, Bapak, dan Langgeng. Disitulah sosok Langgeng muncul dihadapan kami, benar-benar berbeda dengan sosok yang ane liat waktu perjumpaan kali itu. Langgeng sudah seperti makhluk yang sejadi-jadinya mengerikan (ane ga bisa deskripsiin, karena ane udah dilarang buat menjelaskannya secara detail).

Terjadi perdebatan hebat antara Bapak dengan Langgeng. Penyesalan si Bapak sudah seperti angin lalu di hadapan Langgeng. Janji adalah janji yang harus ditepati, dan sesaat sebelum ajal menjemput Bapak … Bapak dan Langgeng menoleh ke ane dan Bapak berkata ‘Tolong sampaikan semua ini kepada yang masih hidup, jangan sampai apa kesalahan yang sudah saya perbuat sekarang terulang lagi ke generasi selanjutnya. Cukup keluarga kami saja yang mengalami semua ini. Tidak ada kekayaan yang bisa didapat secara instan, semua butuh kerja keras. Dan bersekutu dengan jin adalah pilihan yang salah besar, bisa dilihat dari apa yang tersisa dari keluarga kami sekarang? Bahkan raga pun kami tidak memilikinya. Tolong sampikan” tutur si Bapak sambil mengisak tangisan. Entah bagaimana ceritanya Bapak bisa melihat ane, tapi yang jelas mungkin itulah inti dari semua pesan yang ingin disampaikan sosok keluarga ini – Keluarga Tak Kasat Mata yang ternyata mempunyai sejarah yang amat sangat kelam yang tidak pernah ane sangka sebelumnya semuanya bisa terungkap dengan sangat jelas.

Langgeng pun tanpa panjang lebar merebut sukma si pembuat perjanjian, dan menuju ke arah ane. Mampus habis ini kayanya giliran ane nih yang disantap, pikir ane waktu itu. Tapi dengan wujud yang seperti itu Langgeng masih seperti Langgeng yang ane jumpai bareng 13-13-13, beliau tetap berbicara dengan pembawaan yang penuh wibawa kepada ane. Intinya apa yang sudah diijinkan oleh beliau untuk dilihat tolong segera disampaikan apa adanya. Janji beliau kepada ane, beliau dengan sekutu-sekutunya akan menghargai setiap manusia yang tinggal apabila manusia juga menghargainya. Tidak tampak seperti sebuah negosiasi karena ane ga berani nawar sama sosok raksasa di depan, intinya I got it! Beliau menjadi seperti itupun juga sebenarnya karena kemampuannya disalahgunakan oleh manusia.

Buat yang nanya dimana Mbok Rah, Mbah Juminah, dan Mbah Prawiro setelah kejadian itu … mereka menghabiskan masa tuanya dan memilih untuk bungkam sampai pesan kisah ini diungkap hari ini.

Untuk penghuni lain yang mungkin tidak ane ceritakan karena sudah diluar pembahasan inti cerita ini, bisa disimak di hasil investigasi Mbah Kaje & Om Hao – Happy Googling!

Dimanapun kita tinggal atau menempati sebuah tempat pasti ada satu unggah-ungguh (norma aturan) yang tentunya tanpa perlu dibicarakan, kebanyakan orang pasti sudah tahu. Tidak peduli di mantan kantor ane dulu, di tempat agan-agan sekarang ini, atau bahkan di tempat keramaian sekalipun. Sebelum kita tinggal di tempat kita berada sekarang, pasti adalah “sesuatu” yang tinggal lebih lama daripada kita. Dan disitulah berjuta pertanyaan muncul dari pembaca cerita ini, tentang apakah semua gangguan di mantan kantor ane itu tergolong normal? Dan apakah sejauh itu kita merasakan fine-fine saja?

Karena makin kesini banyak dari kami merasa sudah cukup dengan semua gangguan dari keluarga tak kasat mata. Sedikit flashback dari part awal hingga part akhir, ente semua bisa mengingat berbagai gangguan yang pernah kita alami. Tidak peduli pagi – siang – malam, gangguan selalu datang silih berganti … mulai dari yang tampak atau tidak tampak. Tapi dengan kekompakan anak-anak semua yang selalu fight bareng-bareng ketika “mereka” muncul, perasaan takut atau bahkan terganggu sedikit terkesampingkan. Toh kami tahu, selama kami disana mereka hanya ingin menunjukkan eksistensinya saja. Tidak pernah sedikitpun mereka menakuti & mengacaukan pekerjaan kami, so that’s fine!

Tapi semenjak kejadian waktu event Nadine & Rico (yang kebetulan ane skip karena sosok tsb sangat sensitif terhadap ane) dimana mereka mulai menampakkan diri mereka kepada orang lain diluar kami membuat kami sedikit berpikir. Sudahlah kalo memang kalian mau mengganggu, ganggulah kami saja … tidak perlu orang lain ngerasain experience yang sama juga. Sumpah, waktu itu kami semua sempet berpikiran seperti itu – mengorbankan diri sendiri demi orang lain hehe.

Tapi apadaya kami yang hanyalah manusia biasa ini, mau sok-sokan bernegosiasi mengusir penghuni yang sudah lama disana? Kami bukanlah paranormal, apalagi manusia yang diberi bakat lebih. Tindakan yang konyol dan tidak sopan menurut kami semua, karena ibarat kata kita adalah tamu di tempat itu. Padatnya aktivitas produksi saat pertama kali kita berpindah ke tempat itu mungkin membuat kita lupa akan norma aturan mendasar tadi. Satu kata “PERMISI” yang sempat terlewat dari kita sejak kedatangan kami semua, membuat kami sadar mungkin semua ini terjadi karena kami tidak kulanuwun (permisi) terlebih dahulu.

Dan benar adanya setelah hampir 2 tahun kami tinggal tanpa sebuah permisi, kami berinisiatif untuk melakukan syukuran untuk yang pertama kali. Dan setelahnya gangguan-gangguan mulai berkurang sedikit demi sedikit (walau tidak berarti hilang sepenuhnya). Jujur sebenernya selama kami tinggal di bangunan itu tidak pernah sedikitpun kami mengibarkan bendera putih hanya karena gangguan tersebut. Atau bahkan pengusiran dll nya … untuk apa? Toh dimanapun kita berada kita selalu hidup berdampingan dengan mereka. Selama kita menghargai mereka, kita pun juga akan dihargai (walopun masih ada beberapa yang usil ngisengin) tapi setidaknya kami sudah terbiasa dan sudah sedikit berkurang kemunculan eksistensi mereka. Toh kesalahan awal ada di pihak manusia, dimana kami melupakan sebuah kata permisi sebelum meninggali bangunan tersebut. Kedepannya jangan anggap remeh kata permisi ya gan hehehe.

Sebuah rumah yang kokoh berdiri hingga sekarang, terlepas dari semua cerita horor yang ane ceritakan. Selalu mempunyai kenangan tersendiri buat ane & teman-teman ane. Bagi sebagian orang ini adalah teror, tapi bagi kami ini semua adalah nostalgia. Memang seram, memang menakutkan, tapi selalu ada hikmah kebersamaan yang bisa kita ambil. Sadar atau tidak sadar yang tak kasat mata juga telah menambah pesan tersendiri di kisah hidup ane & temen-temen waktu itu. Tanpa mereka kita tidak akan jadi pemberani, tanpa mereka kita tidak akan ingat akan pentingnya beribadah, kita ambil sisi positifnya saja. Bahkan sebelum meninggalkan bangunan ini beberapa dari temen ane sempet nangis ngerasa kangen akan semua nostalgia di tempat ini. Hey Ghost, You Rock! Hehehe makasih sudah pernah menghebokan suasana malam di kantor kami waktu itu, jangan ngajak main penghuni selanjutnya ya nanti dimarain kalian sama Langgeng.

In result, tidak semua makhluk halus punya niat jahat, ane percaya itu. Toh kita semua diciptakan oleh Tuhan hidup berdampingan dengan mereka. Dengan pengalaman yang ane alamin belakangan ini, ane jadi semakin yakin bahkan diantara dua dunia kita masih bisa bantu membantu untuk sebuah pesan yang positif. Benar-benar pengalaman yang luar biasa tentang menulis cerita ini, semua yang diluar nalar logika seketika bisa terjadi di keseluruhan part baik disengaja atau tidak disengaja. Dari yang awalnya ane hanya menceritakan pengalaman ane selama ada disana, sampai pada akhirnya Keluarga Tak Kasat Mata ikut ambil bagian dalam penyampaian pesan di 3 part akhir cerita. Terima kasih Ibu Suminah, Mbok Rah, Langgeng, yang sudah mengijinkan ane untuk menulis pesan-pesan kalian dengan bantuan 13-13-13! (ane masih bisa merasakan kehadiran mereka disamping ane waktu ane akan post part ini). Yang penting ane sekarang bisa merasakan lega selega-leganya karena dibalik cerita horor ini ane masih diberi kesempatan untuk menyampaikan amanah baik.

– TAMAT –

Terima kasih atas partisipasi pembaca yang sudah ikut meramaikan thread ini selama hampir sebulan lebih. Semoga kalian bisa mengambil sedikit pelajaran dari kejadian yang coba ane ceritakan di kisah ini. Ditunggu komentarnya ya, sudah bukan waktunya kita kepo lagi karena selama 13 part ini kita sudah belajar & mengenal bareng-bareng tentang mereka.

Disclaimer : Kedepannya mungkin cerita ini akan dibukukan. Pastinya dengan alur dan tutur bahasa yang lebih rapi & tersusun secara baik. Jadi bagi pembaca yang masih sulit memahami alur cerita ini bisa ditunggu versi novelnya tentunya dengan sedikit cerita tambahan hehe. For update, follow twitter saya @gentayanginkamu