Home Misteri Misteri Buku Hunefer Catatan Perjalanan Setelah Kematian

Misteri Buku Hunefer Catatan Perjalanan Setelah Kematian

Misteri Buku Hunefer Catatan Perjalanan Setelah Kematian − Dalam kehidupan kita menyimpan banyak sekali misteri di dalamnya, akan tetapi dari itu semua tidak ada yang lebih misterius selain kehidupan setelah kematian.

Misteri Buku Hunefer

Tidak seorang pun yang dapat mengetahui apa yang di rasakan setelah ruh kita terpisah oleh jasad kelak. Beberapa ahli medis dan psikologis mencoba untuk membukti adanya kehidupan manusia setelah mengalami kematian. Berdasarkan ajaran Islam, manusia memiliki beberapa fase-fase kehidupan dan fase kehidupan manusia setelah berakhir di dunia ini adalah fase dimana ruh bermigrasi ke alam barzakh atau alam kubur.

Apa yang terjadi di dalam alam kubur tertera di berbagai ayat dan hadist, salah satunya adalah pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Tapi apakah kalian mengetahui , bahwa nenek moyang bangsa Mesir memiliki dokumentasi yang berisi kehidupan manusia setelah mati yang digambarkan secara berurutan dalam kumpulan papirus dan dikenal dengan nama Buku Kematian Hunefer?

Buku Kematian Hunefer merupakan kumpulan dari naskah yang berisi tentang perjalanan manusia menuju kehidupan manusia setelah ia mengalami kematian. Buku tersebut di tulis oleh Hunefer pada dinasti ke-19 atau pada tahun 1300 SM. Buku Kematian Hunefer pertama kali dikembangkan di Thebes di awal periode menengah kedua sekitar 1700 SM. Meskipun pengembangan dilakukan pada tahun 1700 SM, Buku Kematian tersebut ternyata pernah digunakan oleh nenek moyang bangsa Mesir pada tahun 1550 SM. Penemuan paling awal, adalah Buku Kematian yang berada di dalam peti mati Ratu dari dinasi ke-13 Ratu Mentuhotep.

Pada dinasti ke-19, penggunaan dari Buku Kematian Hunefer meluas bukan hanya di kalangan kerajaan saja, akan tetapi juga orang-orang yang bekerja di Istana. Pada umumnya, mantra yang tertulis pada naskah tersebut, di tulis pada kain kafan pembungkus jenazah dari sang mayat. Sebenarnya, Buku Kematian Hunefer hanya terdiri dari beberapa text yang menjelaskan ilustrasi. Sebagian besar dari karyanya, di awali dengan huruh “ro”yang berarti mulut atau pidato. Dalam konteks Buku Kematian Hunefer, kata itu dapat berarti mantra. Mantra-mantra tersebut memiliki banyak sekali fungsi dan kegunaan bagi nenek moyang bangsa Mesir dan penggunanya, salah satunya adalah mantra yang akan membantu orang meninggal selama perjalanan alam kubur ke alam baka.

Buku Kematian ini adalah bagian dari tradisi menulis seperti halnya yang terdapat di piramida mesir dan peti mati yang ditulis ke dalam objek di dalamnya. 

Hingga saat ini, terdapat 192 mantra yang berhasil diungkapkan. Mantra-mantra tersebut dibuat dengan berbagai macam tujuan dan makna. Dalam Buku Kematian, juga terdapat mantra yang memberi pengetahuan mistik bagi orang yang telah meninggal atau mengenalkan mereka kepada para dewa. Sebagian mantra bertujuan untuk memastikan orang yang telah meninggal dilindungi dan berkumpul kembali dengan keluarganya. Dan ada pula mantra yang memiliki tujuan sebagai pelidngung bagi orang yang telah meninggal dari serangan musuh atau menuntun mereka melalui berbagai rintangan di alam kubur.

Hunefer menulis dalam tulisan hieroglif atau hieratic pada gulungan (papirus) dengan berbagai macam ilustrasi dan sketsa orang meninggal selama perjalanan mereka menuju ke alam baka. Di duga, beberapa orang telah mempersiapkan salinan buku tersebut untuk kepentingan diri mereka sendiri. Tulisan yang berada dalam buku tersebut, di baca dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri, tergantung ke arah mana kepala binatang yang terdapat pada buku tersebut mengarah.

Setiap lembar papirus Buku Kematian bertuliskan huruf-huruf yang biasa ada pada naskah atau buku Mesir yang sebelumnya pernah ditemukan. Terdapat pula tanda ankh, paru elang Horus, dan kepala Anubis. Tidak semua gambar ilustrasi yang terdapat pada papirus Buku Kematian dapat dengan mudah diartikan.

Isi dari Buku Kematian Hunefer Memiliki Beberapa Tahap untuk Menuju Ke Surga dan Mantra-mantra yang Berguna Mempermudah si Arwah dalam Perjalanan tersebut.

Perjalanan kematian yang tertera pada Buku Kematian salah satunya di ilustrasikan menggunakan gambar timbangan yang sedang menimbang Jantung seseorang. Ilustrasi tersebut mengandung arti apabila Jantung tersebut lulus dari ujian, maka perjalanan selanjutnya akan terbuka lebar dan mudah untuk dilalui. Begitu juga dengan sebaliknya, apabila Jantung tersebut tidak lolos ujian, maka arwah dari pemilik Jantung akan menghadapi sesosok makhluk menyeramkan yang di sebut sebagai “Pelahap. Ilustrasi dari sosok “pelahap” tersebut, di gambarkan menyerupai seekor Buaya bertubuh singa dan kaki belakang seperti kudanil yang akan melahap bagian demi bagian tubuh arwah.

Setelah arwah berhasil melalui tahap tersebut, perjalanan selanjutnya adalah sebuah papan permainan yang disebut Senet yang memiliki bentuk gabungan antara papan catur dengan Backgammon. Papan tersebut merupakan kiasan dari perjalanan seseorang menuju surga. Kemudian, ritual pembukaan mulut yang konon menggunakan seperangkat alat yang ikut dikubur bersama jenazah. Salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut adalah saat arwah harus menghadapi 42 hakim secara terpisah dan menyebutkan nama mereka satu persatu dengan suara lantang. Dan hal inilah yang membuat Buku Kematian berguna bagi seseorang sebelum ia meninggal, karena dengan Buku Kematian tersebut berisi daftar-daftar nama hakim secara berurutan yang dapat menolong si arwah.

Apabila dari semua tahap di atas si arwah mengalami kegagalan, maka akan ditolong dengan mantra yang berfungsi untuk menutup semua dosa sehingga para dewa atau penghakim tidak dapat melihatnya. Dari situlah si arwah dapat menyelesaikan misi mereka untuk masuk ke dalam Surga. Berdasarkan kepercayaan Nenek Moyang Bangsa Mesir, surga di gambarkan memiliki air seperti yang ada pada sungai nil saat masa panen dan penuh dengan ilalang. Makanan dan minuman juga mudah didapatkan serta para arwah yang berhasil masuk surga akan berkumpul kembali dengan arwah para leluhurnya.

Itulah kehidupan setelah seseorang mengalami kematian versi Nenek Moyang Bangsa Mesir yang mereka tuangkan kedalam sebuah naskah atau gulungan atau papirus. Sejatinya setiap makluk hidup akan mengalami kematian, dan dari kematian tersebut semua yang kita lakukan di Dunia ini akan dimintai pertanggung jawaban.